BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Saturday, December 31, 2011

KERAJINAN BATIK TULIS KHAS BOGOR

Batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik" adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. 
Seperti yang kita ketahui pula, batik adalah suatu hal yang lumrah di Indonesia, dimanapun kita berada, kita pasti akan menemukan batik, entah itu dalam bentuk baju, tas, atau souvenir-souvenir lainnya. Sehingga dari dulu sampai sekarang batik adalah bahan sandang favorit orang-orang di Indonesia, bahkan orang-orang dari negara lain pun senang mengenakan batik.
Jika berbicara batik, yang terlintas dipikiran pastilah nama-nama batik dari Pekalongan, Banyumas, Tulungagung dan sebagainya. Memang pada umumnya masyarakat lebih mengenal batik daerah Solo dan Jogja dengan pola yang sama yakni Sidomukti dan Sidoluruh.
Inilah yang mendorong sepasang suami-istri Siswoyo dan Rukayah asal Jawa Tengah untuk memulai membuat batik yang diproduksi di Bogor. Usaha awal mereka hingga saat ini yang sudah berjalan lima tahun memang  berdagang batik. Kecintaan keduanya terhadap Bogor, membuat mereka berinisiatif untuk melestarikan batik dengan mendirikan Batik Tulis Tradisiku yang bermarkas di kawasan Neglasari, Bogor Utara.
Pasangan ini memproduksi batik di Bogor pada awal 2008. Sebelumnya mereka telah bertemu dengan berbagai kalangan yang mendukung langkahnya, yang nantinya akan diarahkan untuk membangun kerajinan batik di Bogor.
Motif batik yang mereka produksi cenderung mengangkat apa saja yang terkenal di Bogor, seperti motif menjangan, bunga raflesia dan kebun raya. Proses pengerjaannya, mereka lebih memilih untuk memproduksi batik tulis. Siswoyo berpendapat bahwa pengerjaan batik tulis lebih sederhana dan tidak memaan banyak tempat. “Dari dulu keluarga kami sangat menyenangi batik. Melihat banyak sekali koleksi batik di lemari kami, lalu mengapa tidak kita coba buat dengan kreasi sendiri karena pemakaiannya lebih puas”, papar Siswoyo kepada KronikBOGOR.
Para pekerja batik ini memang sudah terlatih dibidangnya. “Untuk karyawan di sini memang kami datangkan dari Jogja. Mereka dari kecil memang sudah terlatih membatik”, kata Siswoyo. Ini juga merupakan salah satu alasan kuat bagi Siswoyo dan Rukayah untuk memproduksi batik di Bogor, karena sebagian besar karyawannya adalah keluarga korban gempa yang beberapa tahun lalu melanda Jogja.
Awalnya Siswoyo mengalami sedikit kesulitan ketika batik Bogor diperkenalkan pada masyarakat. “Januari sampai Desember 2008 saya mengalami masa-masa sulit”, jelas Siswoyo. Namun saat ini batiknya sudah dikenal masyarakat Bogor, karena pada 4 Juni 2009,bertepatan pada Hari Jadi Kota Bogor ke-527, Batik Tradisiku sudah diresmikan menjadi batik khas Bogor.
Batik Tradisiku juga melayani pesanan dengan desain dan motif yang dirancang sendiri. “Selama ini respon pembeli sangat baik dan belum ada keluhan dari pelanggan”, tegas Siswoyo. Siswoyo juga sempat menggelar beberapa kali pelatihan batik tulis dengan binaan dan kerjasama dari Dinas Departemen Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Deperindagkop) Kota Bogor.
Tidak hanya pakaian yang diproduksi olek Batik Tradisiku. Ada berbagai ,macam souvenir yang bisa dijadikan oleh-oleh khas Bogor, diantaranya sandal, mainan dari batik, syal, dompet, sajadah, hiasan kayu dan sebagainya. Harganya bervariasi, dari souvenir seharga Rp8000,- sampai kemeja batik dengan harga Rp140.000,-. Untuk pakaian harganya bisa mencapai jutaan rupiah, tergantung bahan dan tingkat kesulitan dalam pengerjaannya. “Saya selalu menjaga kualitas. Bahkan, ada masukan dari pelanggan untuk model yang akan digunakan. Yang membedakan, baik Tradisiku dari batik lain adalah kami membuat batik yang sesuai dengan selera pelanggan. Harga tergantung dari bahan, motif dan warna yang diinginkan”, kata dia.
Jenis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) seperti batik Tradisiku ini memang lebih bisa bertahan saat krisis ekonomi melanda. Seperti saat krisis global yang tempo hari melanda dunia ekonomi dan bisnis. Bermula dari krisis nasional di AS yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Benang merah dari rentetan krisis ini adalah penerapan globalisasi, dimana roda perekonomian banyak negara di dunia digantungkan. Sebab, dalam sistem ekonomi global krisis yang dialami suatu negara akan menular bak virus ke negara lain khususnya bila krisis itu bermula dari negara-negara maju.
Kita pun sadar globalisasi berpotensi mambawa umat manusia pada krisis berkepanjangan. Ditambah lagi betapa globalisasi ekonomi ternyata hanya condong pada permainan pasar modal, yang sebagian saja benar-benar menyentuh sektor riil.
Bisa disimak bahwa perekonomian di Kota Bogor lebih banyak digerakkan oleh sektor riil dan UMKM. Kebanyakan dari mereka menjalankan usaha yang tak memiliki persinggungan langsung dengan investor, juga dikerjakan oleh SDM dari dalam negeri sendiri. Sejarah membuktikan bahwapara pelaku bisnis dan UMKM-lah yang mampu bertahan ketika krisis menerpa Indonesia pada tahun 1998.
Ini sejalan dengan rekomendasi hasil Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 yang digelar di Hotel Salak, Bogor pada 10-12 Desember 2008. Yakni bagaimana menempatkan budaya sebagai “mata uang” baru dan deposit tambang potensial demi kesejahteraan bangsa Indonesia, yaitu budaya sebagai konsep ekonomi baru yang berorientasi pada kreativitas budaya serta warisan budaya dan lingkungan.
Memang dari krisis global kemaren Batik Tradisiku tetap bertahan. Hampir tidak ada pengaruh sama sekali. Siswoyo mengakui khususnya untuk bahan baku pun hanya sedikit sekali pengaruhnya. “Apalagi ada anjuran untuk menggunakan produk dalam negeri. Mudah-mudahan dengan imbauan tersebut batik bisa lebih sering digunakan”, harapnya.
Mengenai hubungan dengan pelaku usaha kecil menengah lain di Bogor, Siswoyo telah menjalin hubungan dngan banyak pihak. “Hubungan saya dengan UKM (Usaha Kecil Menengah, red) lainnya sangat bagus. Saya juga mngusulkan agar para UKM di Bogor dirangkul agar mereka dapat saling membantu. Tidak hanya sekedar bisnis, tapi juga bisa menjaga silaturahim”, sarannya.

source : Rizta Rosalia Karina for Kronik Bogor,wikipedia
edited : Rizky Fitria Dwinanda


0 comments: